Oleh: Eko Tunas
SERANGAN FAJAR memang judul film karya Arifin C Noer. Tapi di alam kuburnya Arifin mungkin tidak menyangka, ada serangan fajar lain yang lebih populer dari judul filmnya. Dalam film itu para gerilya dibawah pimpinan Soeharto, dengan tanda janur kuning di leher, di dini hari bersiap menyerang benteng Belanda di pusat kota Yogyakarta bersenjatakan bambu runcing, dan hanya ada satu pekikan: rebut Indonesia dari cengkeraman penjajah! Dan ini, se-tim sukses dengan tanda partai, di pagi hari menyerbu rumah-rumah dengan senjata uang, dan hanya ada satu pesan: coblos gambar kami!
Bayangkan kalau gambar tentara Belanda yang diacungi bambu runcing, disandingkan dengan wajah warga yang disodori selembar uang. Yang satu bermuka kecut, yang lain berwajah riang. Tapi benarkah segenap warga dengan riang gembira menuruti pesan parpol itu hanya demi uang untuk sarapan pagi. Jangan-jangan warga tetap menerima uang, tapi mencoblos gambar lain – ini yang benar, sebab berarti warga sadar politik, mereka tetap mencoblos gambar sesuai pilihan partai mereka. Atau menurut mencoblos gambar sesuai pesan, dan ini penanda kelangkaan partai politik. Sebab di sini berlaku pemeo “ada uang abang sayang”, dan kita tidak bisa menyalahkan pemilih.
Sekelompok pemilih sebelum ke bilik pemungutan suara berbincang, “calon ini memberi kita uang, berarti dia orang baik.” Yang lain menanggapi, “ya sebaiknya kita memilih dia,” semua pun mengiyakan. Artinya, ukuran mereka bukan semata uang, tapi pemberian itu bagi mereka satu ujud kebaikan hati. Sayang keadaan seperti ini dimanfaatkan oleh mereka yang melakukan politik uang. Tidak bagaimana memberikan apresiasi bagi kebaikan hati, untuk setidaknya ada keyakinan bahwa partai politik itu ada. Tidak sebaliknya atas pemanfaatan itu, terciptalah satu kondisi paling memprihatinkan. Bahwa, karena kelangkaan parpol di benak rakyatlah yang menjadikan adanya money politic.
SATU perbandingan terbalik justru yang terjadi di era orde lama. Bagi yang masih mengenang kondisi saat itu tentu ingat partai nasional dengan semangat, “pejah gesang nderek Bung Karno” (mati hidup ikut partainya Soekarno). Juga teriakan partai sosialis, “sama rata, sama rasa”, atau spirit partai Islam, “rahmatan lil alamin” (rahmat bagi seluruh alam). Satu kondisi kehidupan politik, dengan pertumbuhan semangat penyerahan diri terhadap partai pilihan hati yang disebut ideologi. Tentu saja dengan perbedaan yang saling melengkapi, sebelum masuknya ideologi sosialisme berganti menjadi faham komunisme yang merusakkan segalanya. Ingat, nasasos (nasionalisme-agama-sosialisme) yang berubah menjadi nasakom (nasionalisme-agama-komunisme).
Sebelum segalanya berubah, kita tahu yang dilakukan Soekarno bukan sok kerakyatan dengan pura-pura merangkul rakyat seperti yang banyak dijanjikan di era orde baru hingga reformasi. Soekarno tidak mendekati rakyat, sebab bagaimana caranya menemui orang perorang, tapi bagaimana dia membuat ideologi. Bukan dia mendekati rakyat, tapi bagaimana menemukan simbol ideologi bernama Marhaen yang kemudian menjadi Marhaenisme bagi Partai Nasional Indonesia (PNI). Kemudian bagaimana dia membuat dasar negara sekaligus landasan bagi seluruh ideologi yaitu Pancasila. Sehingga dengan ideologi itu rakyat menemukan institusi kenegaraan dan nilai kebangsaan, sebagaimana kejayaaan Mataram Lama berlangsung, sebelum Majapahit dan Mataram Islam.
Kejayaan raja dan kerajaan di masa raja besar yang memerintah sebentar yakni Dharmawangsa (870-107 sSm). Setelah raja yang tidak gemar berperang tapi memilih masuk perpustakaan, menemukan Kitab Ramayana dan Mahabarata. Lalu, ia memerintahkan kepada para Empu untuk menggubah dua kitab itu dari bahasa Sansekerta ke bahasa Jawa Kuna. Lahirlah gubahan kitab besar Bramarawilasita yang terdiri, Arjuna Wiwaha (gubahan Empu Panuluh, berdasar Ramayana), dan Bharatayudha (gubahan Empu Sedah, berdasar Mahabharata). Kitab besar Bramarawilasita ini kemudian diminta Dharmawangsa kepada para juru pantun atau tembang, untuk mewedarkannya ke tengah rakyat.
YAKNI, misalnya pewedaran nilai kepanditaan, kesatriaan, kejujuran, dan membela yang lemah. Sehingga dengan usaha pengenalan pemahaman dan keyakinan itu, tercipta satu kondisi keberadaban-kemanusiaan atau yang disebut kebudayaan sebagai institusi sekaligus nilai. Ialah setelah rakyat mulai mengenal kehidupan baru itu, kebudayaan yang tercipta membuat – dengan sendirinya – keraton (kekuasaan) mendekat ke desa/rakyat dan rakyat mendekat ke kekuasaan (Sejarah Nasional, 1950). Pertanyaannya benarkah sekarang ideologi semacam itu telah menjauh, dan dengan sendirinya menjauh pula hubungan antara kekuasaan dan rakyat. Meski demokrasi kian didengungkan dan marak bagaikan pesta besar politik reformasi, tapi tak kunjung menjadi pemahaman apalagi keyakinan.
Ditambah kepemimpinan Soekarno, yang senantiasa menjelaskan sejelas-jelasnya ke tengah masyarakat, setiap mempidatokan temuan pemikiran baru. Tentang arti kemerdekaan, weltanschaung, atau revolusi, padahal pendidikannya benar-benar produk dalam negeri. Tidak sebagaimana di era orba atau reformasi, dengan kemunculan tokoh-tokoh yang sok mepraktekkan hasil pendidikan mereka di luar negeri. Cas-cis-cus menggunakan istilah-istilah modern yang tentu saja berbahasa asing, tapi tidak terjelaskan ke tengah masyarakat. Sehingga sampai saat kini, masyarakat tidak mudeng apa itu demokrasi, kkn (kolusi, korupsi, nepotisme), hingga reformasi. Tak aneh rakyat sering memplesedkan reformasi sebagai repot nasi atau lapor mati, sesuai dengan keadaan yang diakibatkannya.
Tapi rakyat tetap bersikap baik dan tetap dalam keadaan baik-baik saja, meski kondisi yang menimpa mereka oleh politik reformasi akan terus berlangsung hingga puluhan tahun, sebagaimana yang terjadi di Jerman negara asal reformasi. Kami akan berbaik hati dan tetap kusnudzon terhadap apa pun rekayasa politik anda, termasuk janji-janji politik anda. Tapi karena kami lebih baik dari anda, maka kami memiliki ilmu yang tidak anda miliki, yakni ilmu titen (mencatat dalam hati). Ialah ke depan saat janji anda hanya bualan omong kosong, maka kami akan menempatkan anda di tempat paling kosong tak berperikehidupan. Karena demokrasi yang anda pahamkan, adalah menentukan rakyat demi penentuan diri anda, maka kami akan menjadi penyaksi saat anda ditentukan oleh: ketentuan Sang Maha Ideologi.
SERANGAN FAJAR memang judul film karya Arifin C Noer. Tapi di alam kuburnya Arifin mungkin tidak menyangka, ada serangan fajar lain yang lebih populer dari judul filmnya. Dalam film itu para gerilya dibawah pimpinan Soeharto, dengan tanda janur kuning di leher, di dini hari bersiap menyerang benteng Belanda di pusat kota Yogyakarta bersenjatakan bambu runcing, dan hanya ada satu pekikan: rebut Indonesia dari cengkeraman penjajah! Dan ini, se-tim sukses dengan tanda partai, di pagi hari menyerbu rumah-rumah dengan senjata uang, dan hanya ada satu pesan: coblos gambar kami!
Bayangkan kalau gambar tentara Belanda yang diacungi bambu runcing, disandingkan dengan wajah warga yang disodori selembar uang. Yang satu bermuka kecut, yang lain berwajah riang. Tapi benarkah segenap warga dengan riang gembira menuruti pesan parpol itu hanya demi uang untuk sarapan pagi. Jangan-jangan warga tetap menerima uang, tapi mencoblos gambar lain – ini yang benar, sebab berarti warga sadar politik, mereka tetap mencoblos gambar sesuai pilihan partai mereka. Atau menurut mencoblos gambar sesuai pesan, dan ini penanda kelangkaan partai politik. Sebab di sini berlaku pemeo “ada uang abang sayang”, dan kita tidak bisa menyalahkan pemilih.
Sekelompok pemilih sebelum ke bilik pemungutan suara berbincang, “calon ini memberi kita uang, berarti dia orang baik.” Yang lain menanggapi, “ya sebaiknya kita memilih dia,” semua pun mengiyakan. Artinya, ukuran mereka bukan semata uang, tapi pemberian itu bagi mereka satu ujud kebaikan hati. Sayang keadaan seperti ini dimanfaatkan oleh mereka yang melakukan politik uang. Tidak bagaimana memberikan apresiasi bagi kebaikan hati, untuk setidaknya ada keyakinan bahwa partai politik itu ada. Tidak sebaliknya atas pemanfaatan itu, terciptalah satu kondisi paling memprihatinkan. Bahwa, karena kelangkaan parpol di benak rakyatlah yang menjadikan adanya money politic.
* * *
SATU perbandingan terbalik justru yang terjadi di era orde lama. Bagi yang masih mengenang kondisi saat itu tentu ingat partai nasional dengan semangat, “pejah gesang nderek Bung Karno” (mati hidup ikut partainya Soekarno). Juga teriakan partai sosialis, “sama rata, sama rasa”, atau spirit partai Islam, “rahmatan lil alamin” (rahmat bagi seluruh alam). Satu kondisi kehidupan politik, dengan pertumbuhan semangat penyerahan diri terhadap partai pilihan hati yang disebut ideologi. Tentu saja dengan perbedaan yang saling melengkapi, sebelum masuknya ideologi sosialisme berganti menjadi faham komunisme yang merusakkan segalanya. Ingat, nasasos (nasionalisme-agama-sosialisme) yang berubah menjadi nasakom (nasionalisme-agama-komunisme).
Sebelum segalanya berubah, kita tahu yang dilakukan Soekarno bukan sok kerakyatan dengan pura-pura merangkul rakyat seperti yang banyak dijanjikan di era orde baru hingga reformasi. Soekarno tidak mendekati rakyat, sebab bagaimana caranya menemui orang perorang, tapi bagaimana dia membuat ideologi. Bukan dia mendekati rakyat, tapi bagaimana menemukan simbol ideologi bernama Marhaen yang kemudian menjadi Marhaenisme bagi Partai Nasional Indonesia (PNI). Kemudian bagaimana dia membuat dasar negara sekaligus landasan bagi seluruh ideologi yaitu Pancasila. Sehingga dengan ideologi itu rakyat menemukan institusi kenegaraan dan nilai kebangsaan, sebagaimana kejayaaan Mataram Lama berlangsung, sebelum Majapahit dan Mataram Islam.
Kejayaan raja dan kerajaan di masa raja besar yang memerintah sebentar yakni Dharmawangsa (870-107 sSm). Setelah raja yang tidak gemar berperang tapi memilih masuk perpustakaan, menemukan Kitab Ramayana dan Mahabarata. Lalu, ia memerintahkan kepada para Empu untuk menggubah dua kitab itu dari bahasa Sansekerta ke bahasa Jawa Kuna. Lahirlah gubahan kitab besar Bramarawilasita yang terdiri, Arjuna Wiwaha (gubahan Empu Panuluh, berdasar Ramayana), dan Bharatayudha (gubahan Empu Sedah, berdasar Mahabharata). Kitab besar Bramarawilasita ini kemudian diminta Dharmawangsa kepada para juru pantun atau tembang, untuk mewedarkannya ke tengah rakyat.
* * *
YAKNI, misalnya pewedaran nilai kepanditaan, kesatriaan, kejujuran, dan membela yang lemah. Sehingga dengan usaha pengenalan pemahaman dan keyakinan itu, tercipta satu kondisi keberadaban-kemanusiaan atau yang disebut kebudayaan sebagai institusi sekaligus nilai. Ialah setelah rakyat mulai mengenal kehidupan baru itu, kebudayaan yang tercipta membuat – dengan sendirinya – keraton (kekuasaan) mendekat ke desa/rakyat dan rakyat mendekat ke kekuasaan (Sejarah Nasional, 1950). Pertanyaannya benarkah sekarang ideologi semacam itu telah menjauh, dan dengan sendirinya menjauh pula hubungan antara kekuasaan dan rakyat. Meski demokrasi kian didengungkan dan marak bagaikan pesta besar politik reformasi, tapi tak kunjung menjadi pemahaman apalagi keyakinan.
Ditambah kepemimpinan Soekarno, yang senantiasa menjelaskan sejelas-jelasnya ke tengah masyarakat, setiap mempidatokan temuan pemikiran baru. Tentang arti kemerdekaan, weltanschaung, atau revolusi, padahal pendidikannya benar-benar produk dalam negeri. Tidak sebagaimana di era orba atau reformasi, dengan kemunculan tokoh-tokoh yang sok mepraktekkan hasil pendidikan mereka di luar negeri. Cas-cis-cus menggunakan istilah-istilah modern yang tentu saja berbahasa asing, tapi tidak terjelaskan ke tengah masyarakat. Sehingga sampai saat kini, masyarakat tidak mudeng apa itu demokrasi, kkn (kolusi, korupsi, nepotisme), hingga reformasi. Tak aneh rakyat sering memplesedkan reformasi sebagai repot nasi atau lapor mati, sesuai dengan keadaan yang diakibatkannya.
Tapi rakyat tetap bersikap baik dan tetap dalam keadaan baik-baik saja, meski kondisi yang menimpa mereka oleh politik reformasi akan terus berlangsung hingga puluhan tahun, sebagaimana yang terjadi di Jerman negara asal reformasi. Kami akan berbaik hati dan tetap kusnudzon terhadap apa pun rekayasa politik anda, termasuk janji-janji politik anda. Tapi karena kami lebih baik dari anda, maka kami memiliki ilmu yang tidak anda miliki, yakni ilmu titen (mencatat dalam hati). Ialah ke depan saat janji anda hanya bualan omong kosong, maka kami akan menempatkan anda di tempat paling kosong tak berperikehidupan. Karena demokrasi yang anda pahamkan, adalah menentukan rakyat demi penentuan diri anda, maka kami akan menjadi penyaksi saat anda ditentukan oleh: ketentuan Sang Maha Ideologi.
***


0 Comments